Adding

Wednesday, September 12, 2007
Suatu pagi di Masjid Azhar, orang-orang Mesir masih terlelap di buaian hangat mentari. Entah apa yang mereka lakukan semalam. Beberapa orang merebahkan dirinya di sudut masjid. Yang lain lebih memilih untuk menikmati kehangatan matahari musim panas.

Dahulu, waktu masih di pondok, tidur pagi dilarang. Yang nekat melakukan dan ketahuan terkadang disemprot di tempat. Setelah itu, disuruh teriak-teriak di depan rayon. Kalau tidak begitu, berdiri setengah jam-an di pinggir jalan. Salah seorang ustadz pernah berkata, "naumatus shubhi tuuritsu-l-faqra," tidur pagi meyebabkan faqir. Bukan masalah apa maksud hadits tersebut. Tidak tidur pagi bukanlah sesuatu yang buruk. Tak ada salahnya menurut.

Tak lama kemudian sepasang turis lewat. Yang perempuan terlihat memakai 'jilbab' ala kadarnya dengan kacamata hitam bertengger di hidung. Sementara sang laki-laki memakai kaos dengan celana tiga perempat khas musim panas. Dari perawakan mereka, saya hanya bisa menebak kalau mereka dari Eropa.

Sejenak mereka melirik ke arah tubuh-tubuh yang terbujur di atas lantai. Entah apa yang terlintas di benak mereka. Heran atau kaget? Saya jadi teringat cerita seorang warga negara Swedia, teman kakakku di Bali. Sejak kecil dia terbiasa bekerja keras. Tidur sehari semalam dijatah hanya 4 jam. Secara terbuka, orang Swedia tersebut menyatakan keheranannya terhadap sikap orang-orang Indonesia yang dia nilai 'terlalu santai'. Terlalu banyak waktu yang dihamburkan. Lalu apa yang kira-kira akan dia katakan jika melihat fenomena ini?

Saat ini, umat Islam sedang tergopoh-gopoh mengejar ketertinggalannya dari Barat dari beberapa segi. Kuantitas muslim yang nomor dua di dunia setelah Kristen tak jua membuat kita mampu mensejajarkan diri dengan Barat. Malah pandangan kita silau oleh kemajuan mereka. Timur tengah dengan milyaran barel minyaknya yang sempat membuat mata Amerika ijo, Indonesia sang Zamrud Khatulistiwa, sistem ekonomi Islam yang terbukti unggul tak juga bisa mendongkrak taraf kehidupan umat Islam.

Jika umat Islam adalah khaira ummatin ukhrijat linnas, mengapa sekarang mereka tertinggal? Apakah Islamnya yang salah? Eit, tunggu dulu, tak ada agama yang diterima di sisi Allah selain Islam. Fenomena ini lebih terlihat sebagai masalah mental umat Islam sendiri.

Islam mengajarkan pemeluknya untuk sedemikian rupa menghargai waktu. Waktu tidak hanya diukur dengan materi seperti pepatah barat "the time is money", tapi lebih dari itu "al waqtu atsmanu minadz dzhabi." Ightanim khomsan qabla khomsin," "ash-shalaatu khairun mina naum," dan seterusnya.

Konon masyarakat Mesir lebih Islami dari Indonesia, namun selalu ada beberapa jarak antara ilmu dan praktek. Begitu pula di Indonesia. Tidur pagi yang mengisyaratkan kemalasan hanyalah salah satu dari sekian banyak kesenjangan tersebut. Ketiadaan ilmu yang dibarengi dengan amal mengakibatkan umat Islam terpuruk.

Jika demikian halnya, apakah kita selaku mahasiswa universitas Islam tertua di bumi akan melestarikan dan memperlebar kesenjangan tersebut? Semua kembali pada diri kita sendiri...

0 comments: