BREAKING THE HABIT

Sunday, April 27, 2008
Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Mendengar judul lagu Linkin Park ini, sebuah kata bijak terlintas di benak, "Pertama kali, kitalah yang membentuk kebiasaan. Setelah itu, kebiasaanlah yang membentuk kita". Kerap kali kita berputar-putar pada sebuah rangkaian kebiasaan jelek. Pergantian waktu tak ubahnya sampah busuk. Dibuang dan dicampakkan. Tak merelakan malaikat mengusik cumbu rayu setan.

Hari itu bulat. Berputar. Kincir. Iblis. Berputar meneteskan air hitam, titik demi titik. Cermin pun pasrah tak berdaya. Hingga akhirnya nanti, cahaya surga tertutup. Kincir berhenti dan tinta mengering.

Cermin pun mengeras, bahkan batupun tak akan pernah dapat memecahnya. It is the end of the game... But there is always a passage, watch your habit from now on!




QuickPost Quickpost this image to Myspace, Digg, Facebook, and others! Selanjutnya

Istilah Ilmiah Salah Kaprah

Monday, April 14, 2008
Di kalangan masisir, marak penggunaan kata-kata ilmiah. Seperti kata-kata kodifikasi, kanonisasi, dan sebagainya. Kata-kata tersebut hampir bisa kita dapati di berbagai buletin. Baik yang berorientasi sosial seperti Informatika atau Terobosan. Maupun yang bersifat studi normatif-analitis, seperti Sinar Muhammadiyah dan Afkar.

Memang kata-kata ilmiah tersebut digunakan sebagai ungkapan atas istilah-istilah tertentu dalam bidang tertentu pula. Kata ilmiah juga berfungsi sebagai penanda. Dan umumnya, orang awam tidak menggunakan kata ilmiah karena memang mereka tidak mendalaminya. Berarti maraknya penggunaan kata ilmiah dalam masisir bisa kita katakan sebagai indikator keilmuan masisir.

Namun dalam beberapa kasus, terjadi kecerobohan dalam penggunaaan kata ilmiah tersebut. Sebagai dampaknya, pembaca bisa salah mengartikan atau minimal tidak memahami arah tulisan. Dalam Informatika dua-tiga edisi lalu, ditulis tentang tajdid. Sayang kata tajdid di sini disejajarkan dengan kata reformasi. Lalu jika kata tersebut disandingkan dengan agama menjadi tajdid agama atau reformasi agama.

Tajdid sangat berbeda dengan refomasi agama. Tradisi tajdid dalam Islam tidak menyentuh hal-hal mendasar dalam agama. Seperti masalah ketuhanan, akidah, dan prinsip-prinsip dasar syariat. Tapi reformasi mengandung pengertian yang berbeda. "Re" berarti pengulangan, dan "formasi" adalah struktur atau tatanan. Jadi reformasi agama merupakan perombakan struktur dalam agama.

Namun perombakan struktur tidak dilegitimasi dalam ajaran Islam. Merombak struktur sebuah keyakinan berarti merubah hirarki yang ada. Sedang wujud hirarki mengisyaratkan adanya tingkatan otoritas. Jika otoritas tersebut dirubah, boleh jadi yang semula berada di puncak, menjadi di bawah, atau sebaliknya. Celakanya, otoritas tertinggi dalam Islam berada dalam genggaman Allah Swt. Maka sejatinya reformasi keagamaan dalam Islam adalah sebuah kerancuan. Muhammad Iqbal sendiri lebih memilih kata rekonstruksi daripada reformasi untuk menerjemahkan tajdid. (lih. "Reconstruction of Religious Thought in Islam" – "Tajdîd al-Tafkîr al-Dînî fî al-Islâm").

Jika dirunut melalui kacamata sejarah, kata "Reformation" pertama kali dilontarkan oleh Martin Luther (pendiri Kristen Protestan) melalui gerakan pembaharuan di kalangan Gereja Eropa abad ke-16. (lih. http://id.wikipedia.org/wiki/Reformasi). Bahkan jika anda mencari entry "reformation" di Wikipedia, halaman yang terpampang bukannya sebagai gerakan sosial, namun reformasi dalam keyakinan Gereja (lih. http://en.wikipedia.org/wiki/Protestant_Reformation).

Oke, katakan saja sang penulis memang berselisih pendapat dengan saya, dan benar-benar mengartikan Tajdid sebagai reformasi (layaknya Martin Luther). Sayangnya, dalam artikel tersebut tidak ditemukan indikasi yang menunjukkan tajdid dalam artian reformasi. Hal ini merupakan keanehan. Hingga muncul pertanyaan, apakah penulis menggunakan kata tersebut memang berdasarkan alasan ilmiah, ataukah hanya sebagai pemanis tulisan. Jika memang alasan ilmiah, mengapa tidak ada arti padanan yang pas? Dan jika memang digunakan agar tulisan kelihatan berbobot, maka telah terjadi kecelakaan.

Bagaimanapun juga, saya tidak bisa menyimpulkan motivasi pribadi sang penulis (atau boleh jadi sang editor?). Saya di sini tidak bermaksud melarang penggunaan istilah ilmiah, juga tidak bermaksud membatasi. Hanya saja prihatin akan penggunaan istilah ilmiah yang tidak tepat, apalagi yang cuma "asal keren". Karena bobot tulisan bukan dinilai dari banyaknya isme-isme yang dikandung… wa'Llâhu a‘lamu bi's shawâb. Selanjutnya

Islam Sebagai Jalan Hidup

Saturday, March 29, 2008
Apakah arti status kita sebagai seorang muslim? Apakah cukup seseorang dikatakan muslim jika telah mengucapkan syahadat? Sebelum menjawab pertanyaan di atas, alangkah baiknya apabila kita merujuk kepada kisah awal penciptaan manusia. Bagaimana iblis dilaknat oleh Allah Swt. Padahal ia tahu dan yakin bahwa Allah Swt adalah Tuhan Yang Maha Esa. Namun karena kecongkakannya, ia menolak untuk bersujud hormat kepada Nabi Adam as. Sebab itulah, Allah Swt mengusirnya dari surga dan menjanjikan tempatnya kekal di neraka. Na‘ûdzu bi’lLâh min dzâlik…

Maka iman alias kepercayaan saja tidaklah cukup, dibutuhkan Islam sebagai bukti akan keimanan itu sendiri.

إِنَّماَ اْلمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتاَبُوْا وَجَاهَدُوْا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ أُولئِكَ هُمُ الصَّادِقُوْنَ - الحجرات: 14

“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sejati adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.S. al-Hujurat: 14)

Adapun bentuk keislaman sendiri telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw sebagai uswah hasanah, teladan yang sempurna bagi umat manusia. Beliau adalah seorang yang sukses di berbagai bidang. Sebagai kepala keluarga, beliau berhasil menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga. Sebagai orang tua, beliau paling sayang terhadap anak cucu beliau. Sebagai pedagang, kejujuran beliau tersiar ke mana-mana, tak heran bila Siti Khadijah (yang juga saudagarnya) jatuh hati dan meminang beliau. Sebagai tetangga, beliau pun menjenguk tetangganya yang sakit, walau tetangga tersebut selalu melempari beliau dengan kotoran.

Tidak hanya berkisar pada keseharian, Rasulullah Saw. juga sukses dalam mengatur pemerintahan. Beliau berhasil membangun masyarakat madani yang majemuk dan penuh toleransi di Madinah saat dunia masih buta akan hak-hak asasi manusia. Di medan perang, pasukan muslim sangat diperhitungkan oleh musuh. Meski kabilah Quraisy dan kabilah-kabilah lain yang membenci Islam bersekutu dalam perang Ahzab, berkat pertolongan Allah Swt dan strategi yang jitu, Madinah berhasil dipertahankan.

Peran beliau yang menyeluruh sebenarnya menggambarkan bahwa Islam adalah agama yang mencakup semua lini kehidupan. Kehidupan pribadi, keluarga, bertetangga, bermasyarakat, hingga bernegara. Tak satupun luput dari bidikan Islam.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوْا إِلاَّ إِياَّهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ اْلكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيْمًا - الإسراء: 23


“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah kecuali kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah satu atau keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada mereka “ah”. Janganlah engkau membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Q.S. al-Isrâ’: 23)

Al-Quran pun telah mencantumkan kaidah dasar yang terpakai dalam pemerintahan

وَأَمْرُهُمْ شُوْرَى بَيْنَهُمْ - الشورى: 38

“Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.” (Q.S. al-Syûrâ: 38)

Dalam perdagangan Allah Swt dengan jelas melarang riba

وَأَحَلَّ اللهُ اْلبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّباَ - البقرة: 275

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Q.S. al-Baqarah: 275)

Jadi, Islam merupakan jalan hidup. Ia lebih dari sekedar agama. Ia hadir tidak hanya di masjid. Namun ia hadir di rumah, sekolah, kantor, pasar, jalan, hingga terminal.

Bisakah Manusia Lepas dari Islam?

Setiap perbuatan manusia pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. Tiada satu pekerjaan manusia yang terlepas dari pengawasan Allah Swt. Entah jual beli baju, laporan keuangan kantor, browsing internet, bahkan tukang ojek. Jika perbuatan kita baik, maka akan baik pula balasan yang akan kita dapat. Sebaliknya, bila amalan kita buruk, pantaskah kita mengharap pahala dan surga?

Dengan kata lain kehidupan kita di dunia berhubungan erat dengan kehidupan kita di akhirat. Islam menghargai manusia lahir dan batin. Kebutuhan manusia tidak hanya berkutat pada masalah uang, makanan dan air, tapi juga ketenangan batin, kepuasan ruhani dan kedekatan kepada Sang Khalik. Kebutuhan materi dapat dipenuhi dengan usaha keras dan doa, namun apakah kebutuhan ruh kita juga tercukupi dengan banting tulang memeras keringat?

Saat fajar tiba, Islam mengajak pemeluknya untuk bangkit, membuka semangat baru dengan menghadap Allah Swt. Di sela-sela terik, muadzin menyiram letih batin dengan panggilannya. Ketika bayangan memanjang hingga dua kali bendanya, Ashar tiba menjemput batin yang lunglai. Menyiramkan kesegaran baru untuk meneruskan hidup. Tatkala hari berakhir, shalat menjadi sandaran hati untuk berlabuh dan beristirahat. Tak hanya itu, Allah Swt pun turun ke langit dunia pada sepertiga terakhir malam, menunggu hamba-hamba-Nya yang mengadu segala resah dan kesah. Menumpahkan gelut batin yang membekap jiwa… Subhanallah, alangkah indah!

أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ اْلقُلُوْبُ - الرعد: 28


“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenteram.” (Q.S. al-Ra‘d: 28)
Jika keadaan batin sehat, usaha kita pun akan maksimal. Senyum terkembang, permasalahan dapat terpecahkan dengan tenang. Orang-orang di sekitar kita pun senang. Bila Allah telah menjadi penolong kita, maka tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janjinya.

Ialah Islam, satu-satunya agama yang mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, lahir dan batin. Tepat apabila Muhammad Iqbal mengatakan bahwa titel insân kâmil (manusia yang sempurna) hanya dapat dicapai oleh seorang muslim mukmin. Karena hanya seorang muslim mukminlah yang dapat menyelaraskan antara dunia dan akhirat, antara jiwa dan raga, ruh dan jasmani.

Islam sebagai jalan Hidup

Dari uraian di atas, tampaklah bahwa Islam adalah sebuah ajaran yang komplit. Islam tidak hanya sebatas kalimat yang diucapkan, tapi juga dipraktekkan dalam keseharian. Hanya dengan cara inilah Islam dapat berkembang.

Sejarah telah membuktikan, kebangkitan imperium Islam dari zaman Rasulullah Saw hingga dinasti Umawiyah di Andalusia (sekarang negara Spanyol) disebabkan oleh ketinggian budi umat muslim. Penduduk Andalusia yang kala itu dikuasai oleh kerajaan Gothic, mayoritas beragama Kristen dan Yahudi. Mereka terkesima oleh toleransi dan ketulusan prajurit Islam, bertolakbelakang dengan Raja Theodoric yang sewenang-wenang. Pasukan yang dipimpin Thariq bin Ziyad dianggap oleh masyarakat Andalus sebagai penyelamat ketimbang penakluk.

Sebaliknya, kehancuran dinasti Umawiyah bermula ketika umat Islam melupakan ajarannya. Para penguasa saling berebut kekuasaan dan kenikmatan duniawi, alpa akan tuntutan Allah Swt di hari hisab. Satu per satu daerah kekuasaan Islam melepaskan diri menjadi kerajaan sendiri. Tak jarang satu kerajaan menjalin kerjasama dengan pihak Kristen hanya untuk menghancurkan kerajaan Islam yang lain. Ironis.

Dengan demikian, sangat tepat bila Islam dikatakan sebagai sebuah jalan hidup. Kita sebagai muslim harus bangga menjadi bagian dari umat terbaik. Sebagai pemeluk satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah Swt.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِاْلمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ اْلمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ - آل عمران: 110


“Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Kalian menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan kalian beriman kepada Allah.” (Q.S. Âli ‘Imrân: 110)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِيْناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ اْلخاَسِرِيْنَ - آل عمران: 85


“Dan barangsiapa menghendaki agama selain Islam, sekali-kali tidak akan pernah diterima (amalannya). Dan di akhirat, dia termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Q.S. Âli ‘Imrân: 85)

Selanjutnya pilihan menunggu di depan mata kita. Apa yang akan kita perbuat sesuai dengan status kita sebagai seorang muslim? Selanjutnya