Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Ramadhan Bukan Kotak Sulap

Monday, August 31, 2009
Kita sudah sering dengar, kalau kita lulus puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah Swt. Bahkan dijamin selamat dari panasnya api neraka, ‘itqun min an-nâr. Itu kalau lulus...

Pertanyaannya sekarang, apakah orang yang masih bermaksiat pasca Ramadhan bisa disebut “râsib”? Puasanya gagal? Orang yang amarahnya masih suka meletup, apakah berarti puasanya tidak sempurna?

Kita tidak sedang bicara masalah hukum. Menurut hemat penulis, perilaku manusia tidak akan serta-merta berubah hanya dalam satu bulan. Perilaku merupakan buah dari tabiat dan watak yang bersifat lebih permanen dan sulit dirubah.

Jikalau benar puasa Ramadhan saja cukup untuk merubah watak seseorang, ada dua teka-teki yang harus dijawab. Pertama, mengapa setelah bulan puasa, masih saja kemaksiatan dan kejahatan terjadi, kecil maupun besar, sedikit ataupun banyak. Kedua, mengapa juga ketika bulan Ramadhan, yang setan dibelenggu dan pintu neraka ditutup, maksiat—dalam bentuk apapun—masih terjadi?

Setan boleh saja dibelenggu, tapi manusia itu sendiri punya dua potensi, menjadi baik atau buruk. Dua potensi yang bertentangan ini sudah built-in, terinstall pada manusia sejak pertama kali diciptakan.

Sebuah pepatah berkata, awasilah gagasan yang melintas di otakmu, suatu saat ia bakal menjadi pikiranmu. Awasilah pikiranmu, kelak ia bakal menjadi perbuatan. Awasilah perbuatannmu, suatu ketika ia akan menjelma menjadi tabiatmu.

Jadi perjuangan menundukkan nafsu adalah proses yang berlangsung sepanjang tahun. Ramadhan bukan kotak ajaib yang bisa menyulap manusia jadi taat dalam sekejap mata. Ramadhan adalah bulan diskon, potongan harga, dimana Allah Swt. menawarkan maghfirah, rahmat dan hidayah-Nya bagi hamba-Nya yang tahu, mau dan mampu.

Jikalau maksiat kembali terjadi setelah Ramadhan, janganlah berputus asa. Karena sesungguhnya Allah Swt. tahu watak manusia dan kelemahannya. Kalaupun Allah Swt. berkehendak, manusia tidak akan diciptakan dengan nafsu. Andaikata Allah Swt. mau, Allah Swt. pasti sudah melenyapkan setiap manusia yang kafir dan bermaksiat dari muka bumi.

Namun mengapa itu tidak terjadi?
Karena sang Rahman masih setia menunggu hamba-Nya di pintu taubat...
Selanjutnya

Istilah Ilmiah Salah Kaprah

Monday, April 14, 2008
Di kalangan masisir, marak penggunaan kata-kata ilmiah. Seperti kata-kata kodifikasi, kanonisasi, dan sebagainya. Kata-kata tersebut hampir bisa kita dapati di berbagai buletin. Baik yang berorientasi sosial seperti Informatika atau Terobosan. Maupun yang bersifat studi normatif-analitis, seperti Sinar Muhammadiyah dan Afkar.

Memang kata-kata ilmiah tersebut digunakan sebagai ungkapan atas istilah-istilah tertentu dalam bidang tertentu pula. Kata ilmiah juga berfungsi sebagai penanda. Dan umumnya, orang awam tidak menggunakan kata ilmiah karena memang mereka tidak mendalaminya. Berarti maraknya penggunaan kata ilmiah dalam masisir bisa kita katakan sebagai indikator keilmuan masisir.

Namun dalam beberapa kasus, terjadi kecerobohan dalam penggunaaan kata ilmiah tersebut. Sebagai dampaknya, pembaca bisa salah mengartikan atau minimal tidak memahami arah tulisan. Dalam Informatika dua-tiga edisi lalu, ditulis tentang tajdid. Sayang kata tajdid di sini disejajarkan dengan kata reformasi. Lalu jika kata tersebut disandingkan dengan agama menjadi tajdid agama atau reformasi agama.

Tajdid sangat berbeda dengan refomasi agama. Tradisi tajdid dalam Islam tidak menyentuh hal-hal mendasar dalam agama. Seperti masalah ketuhanan, akidah, dan prinsip-prinsip dasar syariat. Tapi reformasi mengandung pengertian yang berbeda. "Re" berarti pengulangan, dan "formasi" adalah struktur atau tatanan. Jadi reformasi agama merupakan perombakan struktur dalam agama.

Namun perombakan struktur tidak dilegitimasi dalam ajaran Islam. Merombak struktur sebuah keyakinan berarti merubah hirarki yang ada. Sedang wujud hirarki mengisyaratkan adanya tingkatan otoritas. Jika otoritas tersebut dirubah, boleh jadi yang semula berada di puncak, menjadi di bawah, atau sebaliknya. Celakanya, otoritas tertinggi dalam Islam berada dalam genggaman Allah Swt. Maka sejatinya reformasi keagamaan dalam Islam adalah sebuah kerancuan. Muhammad Iqbal sendiri lebih memilih kata rekonstruksi daripada reformasi untuk menerjemahkan tajdid. (lih. "Reconstruction of Religious Thought in Islam" – "Tajdîd al-Tafkîr al-Dînî fî al-Islâm").

Jika dirunut melalui kacamata sejarah, kata "Reformation" pertama kali dilontarkan oleh Martin Luther (pendiri Kristen Protestan) melalui gerakan pembaharuan di kalangan Gereja Eropa abad ke-16. (lih. http://id.wikipedia.org/wiki/Reformasi). Bahkan jika anda mencari entry "reformation" di Wikipedia, halaman yang terpampang bukannya sebagai gerakan sosial, namun reformasi dalam keyakinan Gereja (lih. http://en.wikipedia.org/wiki/Protestant_Reformation).

Oke, katakan saja sang penulis memang berselisih pendapat dengan saya, dan benar-benar mengartikan Tajdid sebagai reformasi (layaknya Martin Luther). Sayangnya, dalam artikel tersebut tidak ditemukan indikasi yang menunjukkan tajdid dalam artian reformasi. Hal ini merupakan keanehan. Hingga muncul pertanyaan, apakah penulis menggunakan kata tersebut memang berdasarkan alasan ilmiah, ataukah hanya sebagai pemanis tulisan. Jika memang alasan ilmiah, mengapa tidak ada arti padanan yang pas? Dan jika memang digunakan agar tulisan kelihatan berbobot, maka telah terjadi kecelakaan.

Bagaimanapun juga, saya tidak bisa menyimpulkan motivasi pribadi sang penulis (atau boleh jadi sang editor?). Saya di sini tidak bermaksud melarang penggunaan istilah ilmiah, juga tidak bermaksud membatasi. Hanya saja prihatin akan penggunaan istilah ilmiah yang tidak tepat, apalagi yang cuma "asal keren". Karena bobot tulisan bukan dinilai dari banyaknya isme-isme yang dikandung… wa'Llâhu a‘lamu bi's shawâb. Selanjutnya

Islam Sebagai Jalan Hidup

Saturday, March 29, 2008
Apakah arti status kita sebagai seorang muslim? Apakah cukup seseorang dikatakan muslim jika telah mengucapkan syahadat? Sebelum menjawab pertanyaan di atas, alangkah baiknya apabila kita merujuk kepada kisah awal penciptaan manusia. Bagaimana iblis dilaknat oleh Allah Swt. Padahal ia tahu dan yakin bahwa Allah Swt adalah Tuhan Yang Maha Esa. Namun karena kecongkakannya, ia menolak untuk bersujud hormat kepada Nabi Adam as. Sebab itulah, Allah Swt mengusirnya dari surga dan menjanjikan tempatnya kekal di neraka. Na‘ûdzu bi’lLâh min dzâlik…

Maka iman alias kepercayaan saja tidaklah cukup, dibutuhkan Islam sebagai bukti akan keimanan itu sendiri.

إِنَّماَ اْلمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتاَبُوْا وَجَاهَدُوْا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ أُولئِكَ هُمُ الصَّادِقُوْنَ - الحجرات: 14

“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sejati adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.S. al-Hujurat: 14)

Adapun bentuk keislaman sendiri telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw sebagai uswah hasanah, teladan yang sempurna bagi umat manusia. Beliau adalah seorang yang sukses di berbagai bidang. Sebagai kepala keluarga, beliau berhasil menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga. Sebagai orang tua, beliau paling sayang terhadap anak cucu beliau. Sebagai pedagang, kejujuran beliau tersiar ke mana-mana, tak heran bila Siti Khadijah (yang juga saudagarnya) jatuh hati dan meminang beliau. Sebagai tetangga, beliau pun menjenguk tetangganya yang sakit, walau tetangga tersebut selalu melempari beliau dengan kotoran.

Tidak hanya berkisar pada keseharian, Rasulullah Saw. juga sukses dalam mengatur pemerintahan. Beliau berhasil membangun masyarakat madani yang majemuk dan penuh toleransi di Madinah saat dunia masih buta akan hak-hak asasi manusia. Di medan perang, pasukan muslim sangat diperhitungkan oleh musuh. Meski kabilah Quraisy dan kabilah-kabilah lain yang membenci Islam bersekutu dalam perang Ahzab, berkat pertolongan Allah Swt dan strategi yang jitu, Madinah berhasil dipertahankan.

Peran beliau yang menyeluruh sebenarnya menggambarkan bahwa Islam adalah agama yang mencakup semua lini kehidupan. Kehidupan pribadi, keluarga, bertetangga, bermasyarakat, hingga bernegara. Tak satupun luput dari bidikan Islam.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوْا إِلاَّ إِياَّهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ اْلكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيْمًا - الإسراء: 23


“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah kecuali kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah satu atau keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada mereka “ah”. Janganlah engkau membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Q.S. al-Isrâ’: 23)

Al-Quran pun telah mencantumkan kaidah dasar yang terpakai dalam pemerintahan

وَأَمْرُهُمْ شُوْرَى بَيْنَهُمْ - الشورى: 38

“Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.” (Q.S. al-Syûrâ: 38)

Dalam perdagangan Allah Swt dengan jelas melarang riba

وَأَحَلَّ اللهُ اْلبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّباَ - البقرة: 275

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Q.S. al-Baqarah: 275)

Jadi, Islam merupakan jalan hidup. Ia lebih dari sekedar agama. Ia hadir tidak hanya di masjid. Namun ia hadir di rumah, sekolah, kantor, pasar, jalan, hingga terminal.

Bisakah Manusia Lepas dari Islam?

Setiap perbuatan manusia pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. Tiada satu pekerjaan manusia yang terlepas dari pengawasan Allah Swt. Entah jual beli baju, laporan keuangan kantor, browsing internet, bahkan tukang ojek. Jika perbuatan kita baik, maka akan baik pula balasan yang akan kita dapat. Sebaliknya, bila amalan kita buruk, pantaskah kita mengharap pahala dan surga?

Dengan kata lain kehidupan kita di dunia berhubungan erat dengan kehidupan kita di akhirat. Islam menghargai manusia lahir dan batin. Kebutuhan manusia tidak hanya berkutat pada masalah uang, makanan dan air, tapi juga ketenangan batin, kepuasan ruhani dan kedekatan kepada Sang Khalik. Kebutuhan materi dapat dipenuhi dengan usaha keras dan doa, namun apakah kebutuhan ruh kita juga tercukupi dengan banting tulang memeras keringat?

Saat fajar tiba, Islam mengajak pemeluknya untuk bangkit, membuka semangat baru dengan menghadap Allah Swt. Di sela-sela terik, muadzin menyiram letih batin dengan panggilannya. Ketika bayangan memanjang hingga dua kali bendanya, Ashar tiba menjemput batin yang lunglai. Menyiramkan kesegaran baru untuk meneruskan hidup. Tatkala hari berakhir, shalat menjadi sandaran hati untuk berlabuh dan beristirahat. Tak hanya itu, Allah Swt pun turun ke langit dunia pada sepertiga terakhir malam, menunggu hamba-hamba-Nya yang mengadu segala resah dan kesah. Menumpahkan gelut batin yang membekap jiwa… Subhanallah, alangkah indah!

أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ اْلقُلُوْبُ - الرعد: 28


“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenteram.” (Q.S. al-Ra‘d: 28)
Jika keadaan batin sehat, usaha kita pun akan maksimal. Senyum terkembang, permasalahan dapat terpecahkan dengan tenang. Orang-orang di sekitar kita pun senang. Bila Allah telah menjadi penolong kita, maka tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janjinya.

Ialah Islam, satu-satunya agama yang mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, lahir dan batin. Tepat apabila Muhammad Iqbal mengatakan bahwa titel insân kâmil (manusia yang sempurna) hanya dapat dicapai oleh seorang muslim mukmin. Karena hanya seorang muslim mukminlah yang dapat menyelaraskan antara dunia dan akhirat, antara jiwa dan raga, ruh dan jasmani.

Islam sebagai jalan Hidup

Dari uraian di atas, tampaklah bahwa Islam adalah sebuah ajaran yang komplit. Islam tidak hanya sebatas kalimat yang diucapkan, tapi juga dipraktekkan dalam keseharian. Hanya dengan cara inilah Islam dapat berkembang.

Sejarah telah membuktikan, kebangkitan imperium Islam dari zaman Rasulullah Saw hingga dinasti Umawiyah di Andalusia (sekarang negara Spanyol) disebabkan oleh ketinggian budi umat muslim. Penduduk Andalusia yang kala itu dikuasai oleh kerajaan Gothic, mayoritas beragama Kristen dan Yahudi. Mereka terkesima oleh toleransi dan ketulusan prajurit Islam, bertolakbelakang dengan Raja Theodoric yang sewenang-wenang. Pasukan yang dipimpin Thariq bin Ziyad dianggap oleh masyarakat Andalus sebagai penyelamat ketimbang penakluk.

Sebaliknya, kehancuran dinasti Umawiyah bermula ketika umat Islam melupakan ajarannya. Para penguasa saling berebut kekuasaan dan kenikmatan duniawi, alpa akan tuntutan Allah Swt di hari hisab. Satu per satu daerah kekuasaan Islam melepaskan diri menjadi kerajaan sendiri. Tak jarang satu kerajaan menjalin kerjasama dengan pihak Kristen hanya untuk menghancurkan kerajaan Islam yang lain. Ironis.

Dengan demikian, sangat tepat bila Islam dikatakan sebagai sebuah jalan hidup. Kita sebagai muslim harus bangga menjadi bagian dari umat terbaik. Sebagai pemeluk satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah Swt.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِاْلمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ اْلمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ - آل عمران: 110


“Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Kalian menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan kalian beriman kepada Allah.” (Q.S. Âli ‘Imrân: 110)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِيْناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ اْلخاَسِرِيْنَ - آل عمران: 85


“Dan barangsiapa menghendaki agama selain Islam, sekali-kali tidak akan pernah diterima (amalannya). Dan di akhirat, dia termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Q.S. Âli ‘Imrân: 85)

Selanjutnya pilihan menunggu di depan mata kita. Apa yang akan kita perbuat sesuai dengan status kita sebagai seorang muslim? Selanjutnya

Worldview; Sebuah Pemahaman Awal

Friday, March 14, 2008
Seorang pemuda berjalan tertatih di pelataran kahyangan. “Seorang” ruh mengantarnya menghadap Dewa yang mengurusi kematian. Merasa ada yang aneh dengan pemuda tresebut, sang Dewa memicingkan mata. Tangannya sigap mengambil lembar catatan kematian, mencari nama orang asing itu.

Sejenak kemudian, mata sang Dewa terbelalak. Namanya tidak tercantum di daftar kematian, berarti dia masih hidup! Bagaimana mungkin seorang manusia hidup bisa mencapai alam kahyangan. Kahyangan gempar.

***

Di saat yang sama, kerajaan langit diobrak-abrik, Iblis bersama antek-anteknya bahu membahu menyusun kekuatan. Di sisi lain, para malaikat bersusah payah mempertaruhkan diri untuk mempertahankan gerbang kahyangan dari gempuran iblis di bawah pimpinan seorang Chuneen (pemimpin).

Keadaan menjadi semakin genting, perlahan gerbang langit pun bobol. Kahyangan dilanda panik. Para ruh yang menunggu peradilan lari tunggang langgang. Jika sampai ruh mereka dihancurkan iblis, mereka tak punya kesempatan untuk bereinkarnasi. Namun karena dahsyatnya serangan yang dilancarkan, korban pun berjatuhan.

Ruh malaikat berguguran, Chuneen –yang kebetulan diperankan oleh seorang wanita– tidak mampu berbuat banyak. Sang manusia hidup yang terseret ke alam ghaib akhirnya beraksi menyelamatkan Chuneen dan kahyangan.

(dari: Film The Restless)

***

Sekilas nampak lucu, bagaimana mungkin kahyangan bisa kebobolan setan. Lalu di mana otoritas dan superioritas Dewa selaku Tuhan? Mengapa ada Dewa yang tidak tahu menahu masalah penyusupan seorang manusia hidup di kahyangan? Bagaimana mungkin malaikat sebagai cermin kekuatan Tuhan bisa kalah, bahkan keselamatan kahyangan bergantung pada manusia?

Pertanyaan-pertanyaan di atas timbul karena kita menilai kejadian tersebut berangkat dari sudut pandang Islam. Dalam konsep Islam, Tuhan adalah sebuah Dzat yang Maha Segalanya. Superior dan bersifat mutlak. Laysa kamitslihi syai’un. Tidak ada satupun yang menyerupainya. Tuhan, surga dan neraka merupakan perkara ghaib, tidak mampu dijangkau oleh manusia dan tidak mungkin diketahui kecuali melalui wahyu.

Jika kacamata ini diaplikasikan, penggambaran yang dilakukan oleh sutradara film mengenai malaikat, dewa dan setan adalah hal yang rancu. Apalagi Islam tidak mengenal konsep reinkarnasi. Adegan-adegan film tersebut tak ubahnya lelucon kosong. Tak heran apabila ada yang melihatnya sambil –maaf– terbahak-bahak.

Padahal jika dilihat dari sudut pandang lain, poin-poin di atas boleh jadi dibenarkan oleh keyakinan sutradara beserta konsep-konsep yang turut di dalamnya. Bahkan sebaliknya, bagi mereka mungkin film tersebut justru mereka bisa mempertebal keyakinan.

Ternyata satu permasalahan bisa menimbulkan dua konklusi yang saling bertolakbelakang. Paradigma yang berbeda memproyeksikan suatu benda dengan bayangan yang berbeda pula. Berikut contoh dalam bidang kitab suci.

Wahyu dalam perspektif Kristen tidak lebih dari inspirasi yang diturunkan oleh Tuhan kepada para penulis Injil. Sedang tulisan Injil merupakan abstraksi subjektif mereka atas “inspirasi” tersebut. Mereka sebagai manusia tidak lepas dari pengaruh-pengaruh budaya, ideologi, pengetahuan serta lingkungan yang melingkupinya. Wahyu yang bersifat divine akhirnya menjadi profan.

Karena itu dapat dipahami apabila dalam Injil terdapat fakta-fakta yang kontroversial. Ditinjau dari segi rasionalitas ataupun korelasi antar ayat sendiri. Sebagaimana pernah diungkap oleh Maurice Bucaille dalam bukunya La Bible, le Coran et la Science. Akibatnya Bibel tidak bisa diinterpretasikan secara “mentah”. Subjektifitas penulis perlu dipisahkan dari substansi wahyu. Baru kemudian dicerna ulang sesuai konteks zaman dan ruang. Agar Bibel mampu eksis di tengah-tengah kontroversi.

Berbeda halnya dengan Kristen, konsep wahyu menurut Islam adalah lafzhan wa ma‘nan mina’lLâh, baik lafaz maupun artinya berasal dari Allah. Dengan kata lain, tidak ada campur tangan manusia dalam proses pembentukan wahyu. Kodifikasi sukses mengabadikan al-Quran dalam bentuknya yang paten. Karena itu, metode tafsir al-Quran tidak mengenal dikotomi teks-konteks, subjektif-objektif sebagaimana Kristen.

Apabila kedua konsep tersebut bercampur baur, muncullah produk-produk pemikiran yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Sebuah konsep Kristen apabila dinilai dengan sudut pandang Islam akan rancu. Begitu pula apabila konsep Islam dipandang dari kacamata Kristen. Aplikasi cara pandang yang sedemikian rupa pada akhirnya hanya akan merusak struktur sebuah keyakinan.

Permasalahan yang kita hadapi saat ini adalah infiltrasi pandangan hidup barat dalam relung-relung khazanah keilmuan Islam. Bukan lagi produk hukum yang diserang, akan tetapi sudah masuk pada ranah metode (minhaj). Tak heran apabila dalam beberapa kasus, terjadi kesimpulan hukum yang amat berbeda (baca: berseberangan) dengan jumhur ulama. Karena dibangun di atas epistemologi yang berbeda.

Akhirnya, aplikasi sebuah pandangan hidup (weltanschaaung) Islami merupakan sebuah hal yang mutlak bagi seorang muslim. Begitu juga karakter Islam. Agar kita dapat memahami lalu melaksanakan Islam secara kâffah. Wa’lLâhu a‘lam bi’s shawâb.
Selanjutnya

Tanafuz di Persimpangan Jalan

Monday, October 8, 2007
11 November 2006, tanggal bersejarah yang tak akan terhapus dari memori kita masing-masing. Memasuki bulan kesebelas —terhitung sejak kedatangan kita—, dengan mudah kita bisa menemukan nama rekan Tanafuz baik di IKPM sebagai almamater sekaligus induk Tanafuz, kekeluargaan, afiliatif, senat, PPMI dan beberapa organisasi lain. Ini menandakan bahwa personal Tanafuz bisa dibilang cukup mewarnai pergerakan di Masisir.

Jika kita menoleh ke belakang, Tazkia Fi nailil Fauz boleh dikata memiliki sejarah yang istimewa. Perdebatan alot yang menghiasi penamaan marhalah antara Tazkiyah dan Nailil Fauz menggambarkan motivasi masing-masing pihak (Lih.: Cakrawala Ed.I th.4). Mau ke mana dan apa yang mereka rencanakan untuk marhalah. Shakespeare dalam Hamlet-nya boleh saja bilang, apalah arti sebuah nama. Namun bagi orang yang mempunyai misi, dan tujuan, nama bisa menjadi barang fatal. Sebab menurut hemat penulis, nama mencerminkan keinginan dan tujuan final yang ingin dicapai. Dengan kata lain, saat terjun ke dalam organisasi marhalah ini, setiap personal Tanafuz mempunyai idealisme masing-masing untuk maju ke depan.

Selanjutnya, memelihara idealisme adalah tantangan bagi Tanafuz. Apalagi Tanafuz bisa dikata organisasi plural, anggotanya datang dari latarbelakang yang berbeda. Seperti angkatan kelulusan, pondok almamater, dan daerah. Tantangan pertama yang dihadapi adalah menyatukan sekian banyak suara dan jangan sampai idealisme tersebut diseret kepada kepentingan unsur tertentu. Namun dengan perkumpulan bulanan sebagai ajang silaturrahim dan sosialisasi program sekaligus penyamaan persepsi, keluarga Tanafuz yang plural bisa disatukan, tidak tersekat-sekat dalam kotak sempit, lalu berjalan terseok dan jatuh.

Waktu berlalu dan dinamitas Tanafuz berdetak kencang. Terhitung sejak liburan musim panas dimulai hingga sekarang, beberapa acara yang diadakan dari level almamater, kekeluargaan, hingga masisir sedikit banyak melibatkan anggota Tanafuz, langsung maupun tak langsung.

Dinamitas ini membuka potensi bagi Tanafuz untuk menjadi lebih daripada sekedar marhalah. Keakraban dan kemiripan kultur menjadi keunggulan tersendiri untuk menjalin harmoni lintas kekeluargaan, afiliatif, almamater, dan senat. Tinggal bagaimana kita membangun sinergi antar organisasi —lintas kekeluargaan, lintas afiliatif— demi kepentingan yang lebih besar lagi. Hingga akhirnya tercipta sebuah harmoni umum dalam skup yang luas.

Sebaliknya, derasnya gerakan Tanafuz sedikit banyak memecah konsentrasi personelnya. Kekhawatiran mulai muncul takut-takut kalau marhalah tidak bisa selancar tahun ini. Hal tersebut bisa diraba, terbukti dalam beberapa agenda belakangan panitia agak susah dikumpulkan. Padahal anggota IKPM terkenal paling loyal.

Ada beberapa faktor yang memicu terjadinya fenomena ini. Di antaranya, masing-masing mulai memikirkan masa depan dan memilih medium untuk berkembang. Sejalan dengan apa yang dipahami dari dan mengenai ego (jati diri). Pondok juga mengenalkan kita kepada “jaros”, agar para santrinya sadar, harga hidup tidak semurah “sekedar” mengikuti arus atau formalitas. Mental-mental li ajli inilah yang selalu diberantas oleh pondok. Salah satu adagium yang masih saya rekam baik-baik, “jangan hanya ikut jaros”.

Marhalah sebagai organisasi juga tidak bijak apabila bersikap egois. Yaitu dengan membakukan anggotanya dalam satu bentuk. Sebab fungsi utama marhalah sendiri adalah tempat untuk silaturahim. Toh tidak mungkin suatu organisasi—apapun itu—bisa mengakomodir semua kebutuhan seluruh anggotanya. Di sinilah perlu adanya pengertian untuk saling “berbagi”.

Namun di sisi lain, hendaknya sense of belonging (rasa kepemilikan) terhadap marhalah harus tetap dijaga. Mengingat kesibukan setiap individu yang semakin kompleks dan semakin menjurus pada spesialisasi masing-masing, bukannya tidak mungkin marhalah tersisih. Oleh karena itu, setidaknya kegiatan yang mempu mengikat emosi anggota seperti perkumpulan bulanan, sepakbola, dan musik dipertahankan menjadi agenda tetap marhalah ke depan.

Akhirnya, eksistensi Tanafuz kembali pula kepada figur pemimpinnya. Hari ini Sabtu, 6 Oktober 2007 di Griya Jawa Tengah, Tanafuz memasuki momen yang krusial dan menentukan dalam perjalanannya sebagai marhalah. Kesalahan mengambil keputusan bisa saja berdampak fatal di kemudian hari. Tanafuz akan semakin maju atau justru berakhir.

Mungkin tulisan ini terlalu muluk, atau terlampau dangkal dalam menganalisa permasalahan. Namun paling tidak bisa menjadi stimulan kita agar bisa berbuat lebih banyak. I‘malû fawqa mâ ‘amilû. Wa’lLâhu a‘lamu bi’s shawâb.

*Tulisan dimuat di Buletin Cakrawala edisi terakhir, Oktober 2007. Selanjutnya

Adding

Wednesday, September 12, 2007
Suatu pagi di Masjid Azhar, orang-orang Mesir masih terlelap di buaian hangat mentari. Entah apa yang mereka lakukan semalam. Beberapa orang merebahkan dirinya di sudut masjid. Yang lain lebih memilih untuk menikmati kehangatan matahari musim panas.

Dahulu, waktu masih di pondok, tidur pagi dilarang. Yang nekat melakukan dan ketahuan terkadang disemprot di tempat. Setelah itu, disuruh teriak-teriak di depan rayon. Kalau tidak begitu, berdiri setengah jam-an di pinggir jalan. Salah seorang ustadz pernah berkata, "naumatus shubhi tuuritsu-l-faqra," tidur pagi meyebabkan faqir. Bukan masalah apa maksud hadits tersebut. Tidak tidur pagi bukanlah sesuatu yang buruk. Tak ada salahnya menurut.

Tak lama kemudian sepasang turis lewat. Yang perempuan terlihat memakai 'jilbab' ala kadarnya dengan kacamata hitam bertengger di hidung. Sementara sang laki-laki memakai kaos dengan celana tiga perempat khas musim panas. Dari perawakan mereka, saya hanya bisa menebak kalau mereka dari Eropa.

Sejenak mereka melirik ke arah tubuh-tubuh yang terbujur di atas lantai. Entah apa yang terlintas di benak mereka. Heran atau kaget? Saya jadi teringat cerita seorang warga negara Swedia, teman kakakku di Bali. Sejak kecil dia terbiasa bekerja keras. Tidur sehari semalam dijatah hanya 4 jam. Secara terbuka, orang Swedia tersebut menyatakan keheranannya terhadap sikap orang-orang Indonesia yang dia nilai 'terlalu santai'. Terlalu banyak waktu yang dihamburkan. Lalu apa yang kira-kira akan dia katakan jika melihat fenomena ini?

Saat ini, umat Islam sedang tergopoh-gopoh mengejar ketertinggalannya dari Barat dari beberapa segi. Kuantitas muslim yang nomor dua di dunia setelah Kristen tak jua membuat kita mampu mensejajarkan diri dengan Barat. Malah pandangan kita silau oleh kemajuan mereka. Timur tengah dengan milyaran barel minyaknya yang sempat membuat mata Amerika ijo, Indonesia sang Zamrud Khatulistiwa, sistem ekonomi Islam yang terbukti unggul tak juga bisa mendongkrak taraf kehidupan umat Islam.

Jika umat Islam adalah khaira ummatin ukhrijat linnas, mengapa sekarang mereka tertinggal? Apakah Islamnya yang salah? Eit, tunggu dulu, tak ada agama yang diterima di sisi Allah selain Islam. Fenomena ini lebih terlihat sebagai masalah mental umat Islam sendiri.

Islam mengajarkan pemeluknya untuk sedemikian rupa menghargai waktu. Waktu tidak hanya diukur dengan materi seperti pepatah barat "the time is money", tapi lebih dari itu "al waqtu atsmanu minadz dzhabi." Ightanim khomsan qabla khomsin," "ash-shalaatu khairun mina naum," dan seterusnya.

Konon masyarakat Mesir lebih Islami dari Indonesia, namun selalu ada beberapa jarak antara ilmu dan praktek. Begitu pula di Indonesia. Tidur pagi yang mengisyaratkan kemalasan hanyalah salah satu dari sekian banyak kesenjangan tersebut. Ketiadaan ilmu yang dibarengi dengan amal mengakibatkan umat Islam terpuruk.

Jika demikian halnya, apakah kita selaku mahasiswa universitas Islam tertua di bumi akan melestarikan dan memperlebar kesenjangan tersebut? Semua kembali pada diri kita sendiri... Selanjutnya